Langsung ke konten utama

Merdeka: Dijajah cinta

 

ada yang lebih bahaya dari amarah

ada yang lebih menggetarkan dari takut

pelan terbisik, membuatnya terbuai

lahir dari hati yang riuh, 

ialah cinta


dengan cinta, Juliet rela mati

karena cinta, Ali tak punya tenaga

demi cinta, Zainudin melupakan rasanya

oleh cinta jutaan hektare hutan dapat berubah


satu jari menunjuk,

membubuh tanda bertinta hitam

membayangkan indah bersamamu

memeluk mata dan telinga

hanya bisa bicara tentang cinta dan cinta


dan sialnya, 

cinta lebih bahaya dari amarah

cinta lebih menggetarkan dari takut

tak malu, kusebut-sebut cinta

dengan lantang tak ada yang boleh larang


dan sialnya,

namamu lebih sering muncul dari nama-Mu

merasukiku hingga keruh air sungai

mencabikku hingga malam tak bertiang

menenggelamkanku pada liang tambang

membunuhku karena tak lekas terpenuhi


aku...mencari cinta,

untuk mendapat balasan cinta

lebih banyak dari uang judi,

tapi nyatanya, ku babak belur

melayani cinta yang tak habisnya

cinta penuh amarah hingga aku takut


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi : Novel Nebula Karya Tere Liye

Novel “NEBULA” Karya Tere Liye :  Rahasia Pengintai Terbaik dan Kembalinya Musuh Lama Oleh : Lubna Anfaresi Judul                : NEBULA Penulis             : Tere Liye Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama Kota Terbit       : Jakarta Cetakan II        : April 2020 Ketebalan         : 376 halaman Pendahuluan             Serial Bumi merupakan salah satu serial yang dikeluarkan oleh penulis Tere Liye dan berhasil menarik minat pembaca di tanah air. Serial fantasi ini sudah memiliki sembilan seri dengan seri terbaru berjudul “NEBULA”. Sama seperti seri sebelumnya yang berjudul “SELENA”, seri ke-9 ini menceritakan kisah dari sudut pandang Selena sebaga...

Masak, Makan, Lempah Kuning

  Masak, Makan, Lempah Kuning “Wew, banyak kenek ge. Basing ka lah pon!” [1]             Ucapan dari Ami, gadis Bangka yang sudah kutemui sejak lima hari bertugas di daerah ini, terus terngiang di antara malam-malam sepi di kamar berukuran lima kali tujuh meter. Suaranya begitu tinggi, mencekam, dan rasanya penuh kebencian. Raut wajahnya yang mengerut itu terus terbayang, juga ucapan dengan bahasa yang aku tidak mengerti sama sekali. Jauh dari mal perbelanjaan, kafe yang selalu ramai, atau sekadar lalu lintas kota Yogya, aku terjebak sampai sembilan hari kedepan untuk mengerjakan tugas kuliahku di sini. Aku tidur menumpang kepada salah satu warga kenalan kawan kuliahku, yang juga berasal dari Bangka. Katanya itu adalah rumah seperadik [2] -nya. Pintu kamar yang menjadi tempat tidurku sementara tiba-tiba diketuk dari luar. Aku menghela napas, mencoba meraih gagang pintu dan membiarkan sinar lampu di ruang tengah masuk ke d...

Maaf aku jatuh cinta padamu lagi

maaf, aku jatuh cinta padamu lagi suaramu bahkan tak kukenali mata, hidung, dan bibir sudah jadi basi tapi jika kupikir, pada siapa aku jatuh cinta untuk pertama? maaf, aku jatuh cinta padamu lagi meski suara tak pernah terdengar mata, hidung, dan bibir tak berkabar tapi jika kupikir, kenapa aku harus jatuh cinta? maaf aku jatuh cinta padamu lagi suaramu yang riang dan dalam mata, hidung, dan bibir kembali di sunyi malam tapi jika kupikir, maaf aku jatuh cinta padamu lagi suaramu yang tak pernah memujiku tapi jika kupikir, maaf aku jatuh cinta padamu lagi