Langsung ke konten utama

Merdeka: Gerbang

 

air hujan tak berhenti sedari malam

kembali ia turun hingga petang kelam

tidak menyuburkan tanah atau kolam

tidak mengubah tongkat kayu dan batu


kilau minyak hinggap di keringat

lebih banyak dibawa daripada sesuap nasi

membiarkan kebun sembap

dan pagar besi bergoyang tak henti


kita hanya berada di depan pintu gerbang

dengan senjata api di tangan

dan warganya suka main tangan

menulis pesan-pesan pertolongan


kita baru sampai di depan pintu gerbang

pantaslah mobil sedan menabrak ke garasi

meringkus orang-orang kaya di rumah

tak berdosa ia menyalakan sebatang cerutu


lalu air hujan kembali datang

membuat kuyup bulu mata hingga kaki

kita merintih, mengutuki dokumen lama yang dipuja

'ke depan pintu gerbang kemerdekaan'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi : Novel Nebula Karya Tere Liye

Novel “NEBULA” Karya Tere Liye :  Rahasia Pengintai Terbaik dan Kembalinya Musuh Lama Oleh : Lubna Anfaresi Judul                : NEBULA Penulis             : Tere Liye Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama Kota Terbit       : Jakarta Cetakan II        : April 2020 Ketebalan         : 376 halaman Pendahuluan             Serial Bumi merupakan salah satu serial yang dikeluarkan oleh penulis Tere Liye dan berhasil menarik minat pembaca di tanah air. Serial fantasi ini sudah memiliki sembilan seri dengan seri terbaru berjudul “NEBULA”. Sama seperti seri sebelumnya yang berjudul “SELENA”, seri ke-9 ini menceritakan kisah dari sudut pandang Selena sebaga...

Masak, Makan, Lempah Kuning

  Masak, Makan, Lempah Kuning “Wew, banyak kenek ge. Basing ka lah pon!” [1]             Ucapan dari Ami, gadis Bangka yang sudah kutemui sejak lima hari bertugas di daerah ini, terus terngiang di antara malam-malam sepi di kamar berukuran lima kali tujuh meter. Suaranya begitu tinggi, mencekam, dan rasanya penuh kebencian. Raut wajahnya yang mengerut itu terus terbayang, juga ucapan dengan bahasa yang aku tidak mengerti sama sekali. Jauh dari mal perbelanjaan, kafe yang selalu ramai, atau sekadar lalu lintas kota Yogya, aku terjebak sampai sembilan hari kedepan untuk mengerjakan tugas kuliahku di sini. Aku tidur menumpang kepada salah satu warga kenalan kawan kuliahku, yang juga berasal dari Bangka. Katanya itu adalah rumah seperadik [2] -nya. Pintu kamar yang menjadi tempat tidurku sementara tiba-tiba diketuk dari luar. Aku menghela napas, mencoba meraih gagang pintu dan membiarkan sinar lampu di ruang tengah masuk ke d...

Maaf aku jatuh cinta padamu lagi

maaf, aku jatuh cinta padamu lagi suaramu bahkan tak kukenali mata, hidung, dan bibir sudah jadi basi tapi jika kupikir, pada siapa aku jatuh cinta untuk pertama? maaf, aku jatuh cinta padamu lagi meski suara tak pernah terdengar mata, hidung, dan bibir tak berkabar tapi jika kupikir, kenapa aku harus jatuh cinta? maaf aku jatuh cinta padamu lagi suaramu yang riang dan dalam mata, hidung, dan bibir kembali di sunyi malam tapi jika kupikir, maaf aku jatuh cinta padamu lagi suaramu yang tak pernah memujiku tapi jika kupikir, maaf aku jatuh cinta padamu lagi